Di Era modern ini tentunya banyak sekali persoalan di sektor pertanian terutama persoalan mengenai lahan pertanian yang semakin sempit. Lahan merupakan hal penting yang tidak dapat ditinggalkan dalam sektor pertanian. Namun pada saat ini lahan pertanian mulai menyempit karena adanya perkembangan dari sektor lain yang semakin pesat. Berdasarkan data BPS luas lahan pertanian pada tahun 2018 mengalami penurunan dari 7,75 juta hektar menjadi 7,1 juta hektar, untuk mengatasi persoalan tersebut maka dilakukan pemanfaatan lahan sempit seperti halnya bercocok tanam di pekarangan rumah hingga menggunakan sistem pertanian hidroponik.
Sistem pertanian hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman dengan memanfaatkan air sebagai media tumbuhnya yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi pada tanaman, Pada umunya tanaman yang dibudidayakan berupa sayuran seperti pakcoy, selada, kangkung dan lainnya.
Berbicara hidroponik, pemuda asal kota industri Gresik yang bernama Syaiful Arif biasa disapa kak Syaiful sudah menggeluti usaha hidroponik sejak 4 tahun yang lalu sejak ia lulus dari bangku kuliahnya. Kak Syaiful mengaku memilih usaha ini karena ia hanya memiliki lahan sempit dipekarangan rumah dan ingin memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Kak Syaiful mengatakan bahwa pengetahuan bercocok tanam hidroponik ia pelajari secara otodidak dengan membaca artikel di google dan bertanya-tanya ke temannya yang sudah lebih dulu memulai usaha sejenis.
Bagi kak Syaiful sangatlah tidak mudah dalam memulai usaha ini, yang mana awalnya ia mengeluarkan modal sebesar 75 ribu rupiah. Setelah berjalan beberapa bulan Syaiful memutuskan untuk mengembangkan usahanya dengan meningkatkan modal menjadi 6 juta rupiah dengan ukuran instalasi 4 x 6 meter. Sedangkan omset yang didapat saat ini cukup besar yakni 640.000,- untuk sekali panen, itu pun tanaman yang ditanam hanya selada yang tidak memerlukan perawatan khusus.
Dalam menjalankan sebuah usaha tentunya terdapat kendala yang dialami oleh kak Syaiful ini, yang pertama yakni masalah pemasaran hasil panen yang sulit masuk pasar karena harga sayuran hidroponik yang tergolong mahal. Awalnya kak Syaiful hanya menjual sayuran hidroponik ke tetangga-tetangga, namun saat ini hasil panenya dijual melalui media sosial dan hasilnya mengalami peningkatan yang drastis, bahkan konsumennya banyak yang berasal dari luar daerah. Kak syaiful juga memaparkan bahwa sayuran hidroponik ini aman dikonsumsi oleh siapa pun karena tidak menggunakan bahan kimia dan pestisida.
Untuk menambah wawasan dan eksistensi kebun hidroponiknya kak Syaiful mengikuti Komunitas yang bernama “KHG (Komunitas Hidroponik Gresik)” yang mana komunitas tersebut digunakan sebagai wadah bagi masyarakat kota industri (Gresik) yang tertarik mempelajari teknik hidroponik dan juga saling berbagi pengetahuan tentang teknik hidroponik. Selain itu komunitas tersebut mewadahi dalam hal pemasaran sayuran hidroponik dengan tujuan untuk mempermudah petani hidroponik dalam memasarkan hasil panennya.
Harapan kedepannya kak Syaiful ingin memperkenalkan teknik hidroponik kepada masyarakat luas terutama masyarakat yang mempunyai lahan sempit. “dengan hidroponik walaupun lahannya sempit tapi masih bisa mananam sayuran sendiri yang aman tanpa pastisida” tutur kak Syaiful. Selain itu dengan pemafaatan teknik hidroponik ini dapat meningkatkan penghasilan masyarakat. Maka dari itu persoalan lahan sempit sudah tidak lagi menjadi persoalan yang rumit. Sebaiknya kita sebagai generasi muda dapat memanfaatkan teknologi pertanian dengan baik dan efektif sehingga dapat meningkatkan produktifitas sektor pertanian di Indonesia. Karena sektor pertanian sangatlah penting dan tidak dapat ditinggalkan karena “Soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa!” Ir. Soekarno.


Komentar
Posting Komentar