Review Jurnal : Mitigasi Perubahan Iklim dalam Mempertahankan Produktivitas Tanah Padi Sawah (Studi kasus di Kabupaten Indramayu)
TUGAS PRKTIKUM
PENGANTAR AGRIBISNIS
Mitigasi Perubahan Iklim dalam Mempertahankan Produktivitas
Tanah Padi Sawah (Studi kasus di Kabupaten Indramayu)
Disusun Oleh:
Yuniarti Maulidiah 170321100018
Fina Alysia Firnanda 170321100060
Aulia Adetya 170321100062
Ivan Bahtiar Santoso 170321100082
Moh. Sudi 170321100084
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
2017
INTI MASALAH
Fenomena Dampak PI (Perubahan Iklim) di Kabupaten Indramayu (luas jenis lahan sawah)
1. Iklim dan curah hujan
Suhu udara atau iklim di Kabupaten Indramayu cukup tinggi berkisar antara 22.9 – 30 C. Tipe iklim di Indramayu termasuk iklim tropis. Menurut klasifikasi schmidt dan ferguson termasuk iklim tipe D (iklim sedang).
2. Kasus Kebanjiran dan mitigasi kearifan lokal
Kabupaten Indramayu mempunyai tipe iklim D, dengan temperatur berkisar 18 – 28 ÂșC. Curah hujan rata-rata per tahun berkisar 1.418 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 75 hari. Curah hujan yang terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan 364 mm, sedangkan curah hujan terjadi pada bulan Agustus dengan curah hujan 10 mm. Dengan demikian,keadaan tersebut sangat memperngaruhi perkembangan luas lahan sawah.
Kasus Kekeringan dan mitigasi kearifan local
3. Kekeringan umumnya dirasakan selama 4 – 6 bulan dan salah satu penyebab kekeringan ini adalah irigasi. Jika musim kemarau tiba,pasokan air untuk irigasi mengalami pengurangan dan daerah yang mengalami kekeringan ini semakin bertambah luas, salah satu adalah Kecamatan Krangkeng yang lokasinya berada pada paling ujung pengairan. Sehubungan dengan cuaca yang tidak mendukung, dampak kekeringan yang dirasakan oleh petani yaitu penurunan produktivitas dari keadaan normal yang 1 bau ( 7000 m2) menghasil 3 ton GKP (normal) menurun menjadi 3 kwintal GKP (tidak normal).
Analisa Input Output Usaha tani Padi Kondisi Normal Pada MH
Dalam kondisi Kebanjiran
Akibat tingginya curah hujan pada kejadian La Nina selama tahun 2010. Karena mengalami kebanjiran, sebagian besarareal persawahan di kedua Kecamatan tersebut tergenang air. Persawahan yang tergenang air selama 7 hari, produksinya tergolong masih normal. Persawahan yang tergenang air kurang lebih 15 hari produksinya tergolong tidak normal. Sementara itu, persawahan yang tergenang air kurang lebih 30 hari,produksinya mengalami gagal panen.
Dalam Kondisi Normal Musim Kemarau
Produktivitas usaha tani padi pada MK 1 di Kecamatan Krangkeng, rata-rata hanya mencapai 3,0 ton gkp per hektar. Rendahnya produktivitas usahatani padi pada MK 1 di Kecamatan Krangkeng tersebut, kemungkinan besar dipengaruhi oleh tidak terjaminnya pengairan dan pengurangan dosis pupuk urea.
Dalam Kondisi Kekeringan
Pada MK 1 2011 sebagian besar areal persawahan di Kecamatan Krangkeng mengalami kekeringan karena sejak bulan Juni 2011 (pada saat tanaman padi berumur sekitar 40 hari) hujan tidak turun. Adaptasi yang dilakukan oleh kelompok tani bersifat antisipatif maupun adaptif.
RIVIEW JURNAL
Pendahuluan
Perubahan iklim merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan berubahnya pola iklim dunia yang mengakibatkan fenomena cuaca yang tidak menentu. Perubahan Iklim dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak stabil sebagai contoh curah hujan yang tidak menentu, sering terjadi badai, suhu udara yang ekstrim, arah angin yang berubah drastis, dan sebagainya (Ratnaningayu, 2009). Perubahan iklim global akan mempengaruhi banyak hal, termasuk empat unsur iklim dan komponen alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian, yaitu: (1) naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembaban dan dinamika atmosfer, (2) berubahnya pola curah hujan, (3) makin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti El-Nino dan La-Nina, dan (4) naiknya permukaan air laut akibat pencairan gunung es di kutub utara. (Direktorat Pengelolaan Air, 2009).
Dampak dari perubahan iklim dari hasil studi yang dilakukan oleh Handoko et al. (2008) menyebutkan dampak sosio-ekonomi akibat perubahan iklim diantaranya yaitu : penurunan produksi dan produktivitas, penurunan pangsa GDP sektor pertanian, fluktuasi harga produk pertanian, perubahan distribusi geografis dari rezim perdagangan, serta peningkatan jumlah penduduk yang berisiko kelaparan dan ketidakamanan pangan.
Metode Penelitian
Dalam mereview sebuah jurnal harus memperhatikan yang menjadi pokok permasalahan yang diangkat, hasil hasil analisis penulis dan peneliti jurnal terkait, sehingga dapat menyimpulkan maksud yang terkadung dalam jurnal khususnya dalam menjawab berbagai permasalahan. Oleh karena itu, pembahasan bagaimana metodelogi dalam jurnal menjadi sebuah bagian yang penting, mengingat mereview merupakan metode yang digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana penulis jurnal menyimpulkan hasil jurnal dan kelebihan serta keterbarasan metode dalam jurnal.
Penelitian di lakukan di provinsi Jawa Barat dengan alasan bahwa Jawa Barat merupakan sentra produksi pangan berbasis padi dan kawasan yang memiliki kerawanan terhadap iklim. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan sample berupa data primer dan dilakukan secara purposive pada kelompok tani didaerah tersebut. Untuk mengetahui kearifan local digunakan metode deskriptif analitik dan digunakan metode analisis kuantitatif untuk mengetahui adaptasi kelompok terhadap perubahan iklim.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan olehj peneliti maka dapat diperoleh hasil mengenai Fenomena Dampak PI (Perubahan Iklim) di Kabupaten Indramayu (luas jenis lahan sawah) bahwasannya perkembangan luas lahan sawah akibat dampak perubahan iklim sejak tahun 2009 hinggatahun 2011 terjadi perubahan yang cukup signifikan. Ada beberapa factor yang mempengaruhi menurunnya jenis luas lahan dan sawah diantaranya Iklim dan curah hujan, kebanjiran, kekeringan,
Saputro D R Sari menyatakan bahwa keadaan curah hujan di kabupaten Indramayu terjadi pada bulan Januari dengan rata rata280,70 mm (punvak musim hujan) dan curah hujan terendah terjadi pada bulan September dengan rata rata 5,19 mm (puncak musim kemarau). Musim hujan yang paling panjang menyebabkan air laut naik dan membanjiri sawah. Oleh karena itu benih padi tidak dapat tumbuh karenah tanah sawah tercampur air laut. Para petani sudah mencoba berbagai upaya seperti uji coba 15 varian untuk mendapatkan benih yang sesuai dengan perubahan iklim.
kekeringan umumnya dirasakan selama 4 – 6 bulan dan salah satu penyebab kekeringan ini adalah irigasi. Oleh karena ini areal tanam padi petani masih sangat bergantung pada pasokan air irigasi Bendung Rentang Kabupaten Majalengka dan Perum Otorita Jatiluhur Kabupaten Indramayu. Jika musim kemarau tiba,pasokan air untuk irigasi mengalami pengurangan dan daerah yang mengalami kekeringan ini semakin bertambah luas, salah satu adalah Kecamatan Krangkeng yang lokasinya berada pada paling ujung pengairan. Musim kemarau tahun lalu (tahun 2010) saluran air irigasi maupun saluran air pembuang masih menyisakan air sehingga dimanfaatkan petani dengan cara pompanisasi. Namun musim kemarau tahun ini (tahun 2011) benar-benar kering. Kondisi umur tanaman 6-8 minggu adalah kondisi saat tanam sangat memerlukan pasokan air dalam jumlah yang cukup. Kenyataannya, pada saat tanaman padi sangat memerlukan air, pasokan air irigasi terhenti, sehingga tanaman terancam gagal panen.
Simpulan
Dalam Jurnal ini, sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan awal, bahwa Strategi adaptasi yang ditempuh kelompok-kelompok tani contoh pada kasus kebanjiran di kabupaten Indramayu dalam menghadapi bencana kebanjiran yang melanda persawahan mereka adalah cukup efektif karena R/C rasio dalam kondisi terjadi kebanjiran berkisar 1.01 Strategi adaptasi yang ditempuh kelompok tani contoh di Kabupaten Indramayu dalam menghadapi bencana kekeringan yang melanda persawahan mereka tergolong efektif karena R/C rasio dalam kondisi kekeringan hanya mencapai 14,11 persen dari R/C rasio dalam kondisi normal.
Kondisi ini terjadi kemungkinan besar terjadi karena bauran antara strategi adaptasi yang ditempuh kelompok tani tidak tepat dan intensitas bencana kekeringan yang tergolong cukup tinggi. Kelembagaan non-pemerintah hingga saat ini sama sekali belum dapat diandalkan untuk mengatasi masalah perubahan iklim dalam hal ketahanan pangan. Kebijakan yang terkait upah tenaga kerja. Serta penyediaan bahan dan peralatan (mesin) pertanian yang terkait dengan upaya mengatasi dan mengantisipasi perubahan iklim masih harus bersandar pada kebijakan pemerintah.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, pada bagian ini dikemukakan rekomedasi terhadap jurnal ini yang mana didalam jurnal hanya dipaparkan untuk strategi adaptasi yang ditempuh oleh kelompok kelompok tani hanya memperhatikan keefektifan, maka dari itu selain selain segi efektiv disini juga harus memperhatikan segi evesien, dikarenakan dalam jurnal ini dipaparkan biaya untuk hal tersebut relatif banyak.

Komentar
Posting Komentar