Kesendirian rumah cahaya inilah yang bangkitMengendap manusiawi yang selalu pergiDidalamnya tergantung adzan kekafiranApakah pasar dunia telah usai disini?Yang batas tawa manis kami, dan sunyi yang nyanyiYang tegakkan sujud air mataYang didalamnya mengalir malaikat seperti sungai waktu, menangisi pelayaran manusianyaMelewati pelabuhan-pelabuhankesebelah barat benak duniaO, panorama alam benda
Kesendirian rumah cahaya inilah yang bangkitMengendap bumi manusiaku yang begitu sabuk dikotanyaMenyalalah konser perempuan, manari-nariDibalut tipis pakaian musim panasDi trotoarBunga yang terselip peyudaraTelah hilang wangi kasihsayangAih! Surga sungguh menjelma dihadapanDalam fantasi kota malam, begitu tentramBegitu megah dan mengerikanApakah pasar dunia tanpa tiang akhir?Orang datang orang pergi tanpa manusiaKesendirian rumah cahaya inilah yang bangkit, mendirikan tangga-tangga langit ditengah pasarMengedepankan manusiamuYa manusiaku, sampai kesebelah barat benak dunia manusia kita
Abdul Wachid B.S, 1992

Komentar
Posting Komentar