Trend Buah Naga di Kalangan Masyarakat Indonesia



Trend Buah Naga di Kalangan Masyarakat Indonesia
Image result for buah naga

Nama buah naga atau dragon fruit memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, buahnya yang berwarna mencolok dengan kesegaran yang luar biasa seakan mimikat hati masyarakat dalam waktu sekejap. Hampir semua kalangan menyukai buah naga mulai dari anak anak, remaja maupun orang dewasa, sehingga buah naga sangat cepat dikenal oleh masyarakat. Hingga saat ini kebutuhan akan buah Naga Indonesia cukup besar dan bukan hanya pasar lokal saja yang ingin mencicipi buah ini. anaman  buah  naga  masuk  ke Indonesia sekitar tahun 2000, diimpor dari Thailand, kemudian dibudidayakan menjadi tanaman pertanian di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Malang, Mojokerto, Bogor dan Jember. Meskipun memiliki iklim tropis yang cocok, di Sulawesi Tengah tanaman ini belum dibudidayakan bahkan belum banyak dikenal masyarakat (Basri, Basri, & Syakur, 2013).
Buah naga ada empat jenis yaitu buah naga daging  merah, berdaging putih, berdaging super merah dan buah naga kuning.  Keempat  jenis  buah tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dan mempunyai ciri yang berbeda sehingga mempunyai perbedaan nilai jual. Kelebihan buah naga berdaging putih adalah ukuran buah lebih besar, warna daging lebih menarik, proses penyerbukan lebih mudah dan produktifitasnya lebih tinggi daripada jenis lainnya (Basri et al., 2013).  Buah naga memiliki kandungan gizi cukup lengkap. Setiap 100 g buah naga mengandung 83 g air, 0,61 g lemak, 0,22 g protein, 0,9 g serat, 11,5 g karbohidrat, 60,4 mg  magnesium,  vitamin  B 1 , B 2 , C, mengandung asam fenolat yang lebih tinggi, dan bijinya mengandung asam lenoleat sebagai anti kanker. Selain dikonsumsi langsung, buah ini dapat digunakan sebagai jus, manisan, dan selai yang berkhasiat sebagai penyeimbang kadar gula darah, pelindung  kesehatan  mulut,  penurun kolestrol, mencegah pendarahan, dan kanker usus (Indira, Harvey, Januar, & Kusmiati, 2009).
Saat ini, buah naga di pasaran masih dijumpai sebagai buah impor dengan harga relatif mahal, terutama pada daerah yang jauh dari perkebunan buah naga. Hingga saat ini kebutuhan akan buah Naga Indonesia cukup besar dan bukan hanya pasar lokal saja yang ingin mencicipi buah ini. Peluang Ekspor juga tidak kalah besarnya, namun kebutuhan yang besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dalam negeri (Suartha, 2009). Menurut (Agein, 2013), bahwa buah naga mempunyai prospek yang cukup baik di Indonesia, karena buah naga yang dijual di pasaran didominasi buah naga impor dan hanya 1% yang dipasok oleh produksi dalam negeri.
Perlu beberapa upaya agar Indonesia mampu memanfaatkan potensi sumberdayanya khususnya pada komoditas buah naga, diantara upaya yang dilakukan yaitu dengan membuat kultur jaringan, Menurut (Samudin, 2009), kultur jaringan merupakan suatu tehnik mengisolasi bagian tanaman, baik berupa organ, jaringan, sel ataupun protoplasma dan selanjutnya mengkultur bagian tanaman tersebut pada media buatan dengan kondisi lingkungan yang steril dan terkendali. Bagian-bagian tanaman tersebut dapat beregenerasi hingga membentuk tanaman lengkap. Keberhasilan pelaksanaan kultur jaringan antara lain ditentukan oleh pengunaan komposisi media yang sesuai. Sejumlah laporan telah menunjukkan bahwa setiap genotip (varietas) membutuhkan komposisi media tertentu guna mendukung pertumbuhan eksplan yang optimal (Samudin, 2009). Dengan adanya upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas buah naga di Indonesia dan dapat memenuhi permintaan pasar pada komoditas buah naga.


DAFTAR PUSTAKA
Agein, G. (2013). Pertumbuhan Tanaman Buah Naga Merah ( Hylocerus polyrhizus ) pada Berbagai Konsentrasi Benzilamino Purine dan Umur Kecambah secara In Vitro, 1(4), 332–338.
Basri, H., Basri, Z., & Syakur, A. (2013). Aklimatisasi Bibit Tanaman Buah Naga ( Hylocereus undatus ) pada Tingkat Naungan Berbeda. E-J. Agrotekbis, 1(4), 339–345.
Indira, F., Harvey, W., Januar, J., & Kusmiati, A. (2009). Trend Produksi Dan Prospek Pengembangan Komoditas Buah Naga Di Kabupaten Jember, 3(2), 71–78.
Samudin, S. (2009). Pengaruh kombinasi auksin-sitokinin terhadap pertumbuhan buah naga. Media Litbang Sulteng, 2(1), 62–66.
Suartha, I. D. G. (2009). Studi Kelayakan Agribisnis Buah Naga ( Suatu Kajian Kepustakaan ). GaneC Sware, 3(2 September 2009), 6–11.


Komentar